loncatan pembangunan Jonegoro menjadi matoh
Potret percepatan menggauli keterbatasan
Tanah gerak hujan dan banjir
Kering waktu kemarau
Kekuarangan dan keterbatasan
Cambuk untuk berkarya jaya
Bojonegoro semangat berbenah
Bojonegoro pasti semua suka
Bojonegoro matoh
karya Kang Yoto
Lagu ini akhirnya menjadi terasa enak di dengar karena sering dinyanyikan oleh tim paduan suara ICSADA dinyayikan ketika acara resmi, sehingga menambah familiar ditelinga.
Kala itu kalau mau pakai baju batik hanya ada batik Gedok atau solo, akhir-akhir ini terasa batik Jonegoro menjadi suatu yang enak dipakai dan menjadi ikon baru dan dengan Pak Jokowi juga memakai batik Jonegoro beberapa waktu yang lalu, apa gerangan yang membuat Jonegoro membuat gaung ini terasa luar biasa, ini terasa sekali dengan masyarakat yang tinggal di Jonegoro maupun pendatang.
Blimbing yang dulu hanya sekedar buah yang sulut untuk memasarkan, kini menjadi bernilai ekonomis tinggi, kini menjadi agro wisata yang menyamakan dengan daerah Malang, bendungan gerak dengan ikan loncat yang hanya ada di Amerika dengan ikan salmonnya, kini ada di Jonegoro
Kebanggaan ini muncul dengan banyaknya perkantoran yang menjulang tinggi, dengan hotel berbintang, dan Masjid Agung Darussalam begitu megah, ada apa dengan Bojonegoro? kedepan akankah menjadi metropolitan atau menjadi kota ‘mesum’? karena menjamurnya Hotel?, ini dampak sosial kemasyarakatan akan berbaur dengan kemajuan dan percepatan informasi yang menjadi peradaban nantinya, kita tidak mungkin menghindarinya namun bagaimana kita berproses untuk menjadi peradaban yang matoh dan mengolah menjadi lebih bermakna untuk bekal generasi kita nanti.
Genderang percepatan pembangunan menjadi kian teras dengan kebanggan masyarakat Jonegoro maka akan mengupload dan mempubilkasikan Jonegoro melalui media sosial atau media lain, yang sudah menjadi budaya baru bagi prilaku sosial kita, aktifitas apapun kalo perlu semua orang harus di share. Selfi sudah menjadi kebutuhan maka tautkan lokasi Jonegoro tak ketinggalan dan ketika di search di google akan muncul ribuan bahkan jutaan informasi di mesin pelacak dalam hitungan detik di internet, itulah Jonegoro sekarang.
Bahkan imam masjidilharam sempat merasa agak terganggu dengan banyaknya jamaah haji yang selfi di masjidil haram dan sibuk membuat status tentang dirinya ‘bojonegoro-mekkah’, yang harusnya untuk menikmati ibadah, tergeser dengan budaya selfi.
Gerakan yang sudah di bangun Kang Yoto dengan mengedepankan kepemimpinan transformasi akan merubah sekat-sekat birokrasi menjadi terbuka, sumber informasi dari masyarakat langsung akan menjadi sebuah informasi yang sangat berharga dalam merubah mind side warga bojonegoro menjadi bangkit dari masalah sosial, tanah gerak, banjir dan mengejawantahkan kedalam sebuah transformasi sosial.
Kedepan “gerakan desa sehat dan cerdas” digulirkan untuk mentranformasikan sumberdaya ekonomi sosial budaya hingga suntikan dana minimal 1 milyar tiap desa dengan merefleksikan dengan adanya dewan wali amanah di desa yang akan menjadi tumpuan dasar untuk pengembangan sumber daya manusia yang professional dan berkelanjutan.
Percepatan masyarakat Jonegoro menjadi sehat dan cerdas harus di imbangi dengan teknologi informasi, sarana prasaran, pusat bahasa, penelitian pengembangan serta peningkatan mutu pendidikan dasar, menengah dan pendidikan tinggi (PT).
Menarik surat untuk Pak Pratikno (Menteri Sekretaris Negara) Asli Jonegoro, yang di tulis oleh Khorij Zaenal Asrori wartawan Radar Bojonegoro minggu lalu, perlunya mengedepankan riset dan pengembangan dengan melibatkan mahasiswa PT dan potensi kearifan lokal di Bojonegoro, banyak orang sukses dari Bojonegoro jika diminta pertimbangan akan dengan senang hati memberikan masukan membangun Bojonegoro yang lebih baik.
Potensi apun yang kita miliki dengan konten local akan memberikan kontribusi pada Bojonegoro asal diberikan ruang dan kesempatan dalam melakukan pemberdayaan masyarakat. Aktivis NGO sudah memberikan warna terhadap pemberdayaan masyarakat dengan salah satunya dengan sekolah desa, konsep kemiskinan, taman baca dsb, potensi ini sangat bernilai jika di berdayakan dan di beri ruang untuk berkembang sesuai dengan indicator desa sehat dan cerdas, oleh pemkab Bojonegoro, gauli mereka dengan pendekatan progam yang sudah mereka lakukan selama ini, jangan bentuk kelompok tandingan yang menghempaskan mereka sehingga mereka hanya menjadi penonton di komunitasnya sendiri, suatu saat akan marah seperti marahnya bengawan solo jika tidak pernah di beri cinta dan welas asih kepada mereka. Bimbing mereka menjadi komunitas yang selalu optimis dengan arah perjuangan yang sudah di bangun selama ini menjadi lebih bermakna.
Tahun 2015 adalah memasuki ASEAN Community apa yang menjadi daya saing warga bojonegoro dengan kondisi tersebut, berdayakan kearifan local kita bisa bersaing di tingkat global, kiblat anak muda sekarang sudah tidak lagi ke barat namun balik haluan ke Korea, ada apa dengan Korea? Apa karena produk samsungnya yang sudah mendunia? anak muda Bojonegoro sekarang lebih senang menghabiskan waktunya tiap malam mangkal dengan café-café corner yang menyediakan akses internet gratis dengan khas jonegoro kopinem, kopiem, kopinedho’e dll, ini menjadi menarik karena ketika ngopi dengan tas dan gejet baru dan tak ketinggalan power bank yang selalu menemani ngopi tiap hari, seiring dengan meningkatnya ekonomi Bojonegoro, apa yang harus dibangun dengan kondisi semacam ini, potret anak muda Jonegoro sekarang ?
Bagaimana kita memberi warna pada kehidupan mereka? Satu jalan yang terbaik adalah di pendidikan baik sekolah dasar sampai PT. untuk para guru dan dosen beri mereka pemahaman yang benar dan cara berfikir yang arif dan bijak, sehingga kedepan dapat berfikir produktif dan mampu berbagi dengan sesama, tidak salah dalam memposisikan dirinya maupun cara mengambil keputusan yang cepat tepat dan bermartabat.
“Ayo Bojonegoro”
“Bojonegoro Kota Pendidikan yang Bermartabat”
Bojonegoro 6/11/2014
Hasan Bisri
Ketua STIKES ICSADA Bojonegoro
Ketua ASPERTIB (asosiasi Perguruan Tinggi Bojonegoro)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar