“Jangan paksakan
anakmu untuk jadi seperti kamu, karena dia diciptakan bukan untuk jamanmu,
didiklah anakmu untuk menghadapi zamannya dan jangan kau didik seperti sesuai
dengan zamanmu, mereka adalah anak-anak
zamannya dan bukan anak-anak kehidupan di zamanmu, bila seorang anak kamu didik
untuk zamanmu ia akan tertinggal dizamannya” (Ali bin Abi Tolib)
Apa yang harus kita lakukan untuk bisa menanamkan
sebuah nilai (value) generasi kita
untuk 15-30 tahun mendatang? tidak bisa di pungkiri dan kita bendung lagi mereka
akan jadi pemimpin, kita yang generasi 60an 70an akan menikmati kepemimpinan mereka
sambil menimang cucu, seraya berdoa, dosakan hamba ketika mengarahkan mereka
untuk melakukan pendidikan tinggi yang tidak sesuai dengan cita-cita mereka dan
kita motivasi yang kita paksakan di akhir masa SMA nya? masa kegamangan untuk
menentukan sebuah pilihan hidup.
Dunia ini panggung sandiwara, ceritanya mudah
berubah, kisah mahabarata atau Ratu Joda, mengapa kita bersandiwara (good bless) peran apa yang harus kita
mainkan ketika kita berada pada posisi di samping mereka “menjerumuskan” mereka
(penjahat) atau memberi arahan sesuai
dengan kemampuan dan keinginan mereka untuk berkembang menjadi diri mereka
sendiri (pahlawan).
Coba kita berusaha untuk evaluasi diri kita masuk
katagori pahlawan atau penjahat untuk masa depan mereka;
Perguruan Tinggi (PT) negeri maupun swasta bagi yang
tidak “sehat” dalam melakukan pemasaran (penerimaan mahasiswa baru) sudah jauh
dari kaidah ‘sopan’ apalagi ‘tepo sliro’
untuk mendapatkan mahasiswa baru apa yang mereka lakukan?
Sudah bukan menjadi rahasia ketika memotivasi calon mahasiswa
bak pahlawan, bahwa tanpa mereka antarkan tidak akan diterima, mereka lupa padahal
mereka lebih canggih dalam mencari sebuah PT untuk diri meraka dengan
kecanggihan teknologi informasi dan bantuan Mbah
Google (alat jasa pencari informasi) dalam
satu menit saja sudah mendapatkan ribuan informasi yang mereka butuhkan,
lengkap dengan gambar dan fasilitas yang di punyai sebuah PT baik di dalam
maupun luar negeri dengan beasiswa atau biaya sendiri dan langsung bisa daftar on line.
Namun apa yang terjadi? Kita sebagai pendamping pada
waktu itu mengarahkan dan member motivasi yang sangan cos pleng dan mathoh
masuk di PT X misalnya saja walupun tidak sesuai dengan keinginan dan motivasi
awal mereka, hanya karena ratusan rupiah sampai jutaan rupiah, dan lebih gila
lagi mereka mendapatkan fee dari PT X
selama anaknya kuliah masih mendapatkan fee, apa yang terjadi pada akhir
kelulusan mereka, banyak tukang insinyur kerja di Bank, banyak lulusan
Kesehatan kerja di Bank, mengapa tidak kuliah di ekonomi saja waktu itu, ini
salah dalam mengambil program studi atau sebuah “nasib”.
Yang menarik ada aknum yang memotivasi anak yang
sudah masuk PT Z namun dengan akal bulusnya diarahkan ke PT V, apa kita sudah
kehilangan sebuah value dan adat
ketimuran kita, yang saling membantu dan memberi motivasi yang baik, tidak
saling memusui dan menjelek-jelekkan satu sama lain? Apa kita masuk dalam
aliran materialistic, bahkan yang
lebih hebat lagi dengan PT kelas jauh dan sangat jauh yang jelas-jelas dilarang
oleh Dikti, apa yang ada dalam benak mereka saat itu adakah sebuah malaikat
pencatat keburukan yang hadir kala itu. Coba kita terka masuk katagori pahlawan atau penjahat ?
Pada stase mahasiswa ini wadah untuk beraktualisasi
diri sebagai seorang anak muda yang menuju dewasa menggapai sebuah impian yang
meraka tanamkan, sebuah pilihan hidup yang harus mereka pertanggung jawabkan sebelum
mereka menjadi profesi yang harus di ambil sebagai konsekwesi pilihan mereka
pada masa stase mahasiswa ini.
Didikan profesionalitas dan pembentukan karakter
yang kita bangun akan berimbas pola pikir mereka pada masa yang akan datang,
sehingga mereka akan kesulitan untuk menempatkan diri sesuai dengan gelar yang
mereka punya.
Orang tua bimbinglah kami sebagai manusia, kami muak
dengan keserakahan dan kemunafikan, sebab dirumah tak ada yang bisa dipercaya (Iwan Fals), tolong ajari kami dengan
cinta jangan renggut masa depan kami hanya karena dana konsumtif, kami adalah
putra mahkota, yang akan menggantikan anda 15 tahun mendatang dan 30 tahun
mendatang sebagai generasi emas, jika anda merusak masa depan kami lebih baik didik
kami menjadi perampok yang melenyapkan harta sesaat dan bisa di ganti, namun
ketika anda menjadi penjahat dan merampok masa depan kami, maka akan
melenyapkan 100 tahun mendatang dan mempunyai value dan etika yang bermoral dan bermartabat, bukankah Nabi kita Muhammad
SAW di utus untuk menyempurnakan budi pekerti (akhlak)? Maka bimbinglah kami
sebagai manusia jangan bimbing kami sebagai penjahat yang merusak moralitas
bangsa dan agama.
Mari kita tingkatkan mutu pengelolaan
pendidikan tinggi yang bermartabat, harusnya sudah melampoi standart nasional,
beri mereka jaminan mutu proses pengelolaan yang bertanggung jawab sesuai
dengan amanah Undang-Undang No. 12/2012 tentang Pendidikan Tinggi berasaskan: kebenaran ilmiah; penalaran;
kejujuran; keadilan; manfaat; kebajikan; tanggung jawab; kebhinnekaan; dan
keterjangkauan. Dengan fungsi pendidikan tinggi adalah Mengembangkan
kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam
rangka mencerdaskan kehidupan bangsa; mengembangkan Sivitas Akademika yang
inovatif, responsif, kreatif, terampil, berdaya saing, dan kooperatif melalui
pelaksanaan Tridharma; dan mengembangkan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dengan
memperhatikan dan menerapkan nilai Humaniora.
Bojonegoro mulai berbenah untuk meningkatkan
mutu SDM baik di tingkat dasar menengah, dan PT berbenah dengan dukungan Pemda
untuk kerjasama tingkat internasional dengan Negara ASEAN khususnya PT dan
Rumah Sakit di Filipina dan pendidikan pelatihan, student of change kedepan peningkatan program, joint degree, doble degree
dan pertukaran dosen untuk dengan konsep kemitraan yang menguntungkan dalam
kegiatan tersebut.
Dengan semangat komitmen meningkatkan
mutu SDM di Bojonegoro alumni ITB periode 1983 yang tergabung dalam Yayasan
Ganesa 83 dengan berbagai profesi ini turut mengabdikan diri untuk Bojonegoro
dengan membekali cara berfikir yang obyektif rasional dengan mengadakan
pelatihan STEAM (Saint, Tecnology, Engenering, Art, Matematic) kepada 105 guru
SMP yang akan memberi pencerahan berfikir pada muridnya, dengan dukungan Sekretariat
Daerah yang laksanakan di Pusat Berlajaran Guru (PBG) oleh Tim guru ahli dan dosen
STIKES ICSADA, mengapa bidikan mereka adalah anak SMP? sadar atau tidak mereka
akan jadi pemimpin untuk tahun 2045, nanti mereka akan jadi pemimpin bangsa
ini, generasi emas ketika Indonesia merdeka ke 100 tahun,
Orang lain saja yang jauh dari Bandung
menunjukkan betapa mereka komitmen untuk meningkatkan SDM di Bojonegoro. dimana
posisi kita? sebagai pahlawan atau
sebagai penjahat? mari kita evaluasi
diri dan merenung sejenak untuk anak cucu kita …..
“Selamat berjuang
untuk membentuk generasi emas yang bermartabat”
Bojonegoro 20/02/2015
Hasan
Bisri Ketua STIKES Insan Cendekia Husada Bojonegoro
Ketua
Asosiasi Perguruan Tinggi Bojonegoro (ASPERTIB)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar