Kamis, 21 April 2016

“Menjadi Wong Jonegoro Yang Produktif Dan Bermartabat”

“Jangan paksakan anakmu untuk jadi seperti kamu, karena dia diciptakan bukan untuk jamanmu, didiklah anakmu untuk menghadapi zamannya dan jangan kau didik seperti sesuai dengan zamanmu, mereka  adalah anak-anak zamannya dan bukan anak-anak kehidupan di zamanmu, bila seorang anak kamu didik untuk zamanmu ia akan tertinggal dizamannya” (Ali bin Abi Tolib)
Apa yang harus kita lakukan untuk bisa menanamkan sebuah nilai (value) generasi kita untuk 15-30 tahun mendatang? tidak bisa di pungkiri dan kita bendung lagi mereka akan jadi pemimpin, kita yang generasi 60an 70an akan menikmati kepemimpinan mereka sambil menimang cucu, seraya berdoa, dosakan hamba ketika mengarahkan mereka untuk melakukan pendidikan tinggi yang tidak sesuai dengan cita-cita mereka dan kita motivasi yang kita paksakan di akhir masa SMA nya? masa kegamangan untuk menentukan sebuah pilihan hidup.
Dunia ini panggung sandiwara, ceritanya mudah berubah, kisah mahabarata atau Ratu Joda, mengapa kita bersandiwara (good bless) peran apa yang harus kita mainkan ketika kita berada pada posisi di samping mereka “menjerumuskan” mereka (penjahat) atau memberi arahan sesuai dengan kemampuan dan keinginan mereka untuk berkembang menjadi diri mereka sendiri (pahlawan).
Coba kita berusaha untuk evaluasi diri kita masuk katagori pahlawan atau penjahat untuk masa depan mereka;
Perguruan Tinggi (PT) negeri maupun swasta bagi yang tidak “sehat” dalam melakukan pemasaran (penerimaan mahasiswa baru) sudah jauh dari kaidah ‘sopan’ apalagi ‘tepo sliro’ untuk mendapatkan mahasiswa baru apa yang mereka lakukan?
Sudah bukan menjadi rahasia ketika memotivasi calon mahasiswa bak pahlawan, bahwa tanpa mereka antarkan tidak akan diterima, mereka lupa padahal mereka lebih canggih dalam mencari sebuah PT untuk diri meraka dengan kecanggihan teknologi informasi dan bantuan Mbah Google (alat jasa pencari informasi) dalam satu menit saja sudah mendapatkan ribuan informasi yang mereka butuhkan, lengkap dengan gambar dan fasilitas yang di punyai sebuah PT baik di dalam maupun luar negeri dengan beasiswa atau biaya sendiri dan langsung bisa daftar on line.
Namun apa yang terjadi? Kita sebagai pendamping pada waktu itu mengarahkan dan member motivasi yang sangan cos pleng dan mathoh masuk di PT X misalnya saja walupun tidak sesuai dengan keinginan dan motivasi awal mereka, hanya karena ratusan rupiah sampai jutaan rupiah, dan lebih gila lagi mereka mendapatkan fee dari PT X selama anaknya kuliah masih mendapatkan fee, apa yang terjadi pada akhir kelulusan mereka, banyak tukang insinyur kerja di Bank, banyak lulusan Kesehatan kerja di Bank, mengapa tidak kuliah di ekonomi saja waktu itu, ini salah dalam mengambil program studi atau sebuah “nasib”.
Yang menarik ada aknum yang memotivasi anak yang sudah masuk PT Z namun dengan akal bulusnya diarahkan ke PT V, apa kita sudah kehilangan sebuah value dan adat ketimuran kita, yang saling membantu dan memberi motivasi yang baik, tidak saling memusui dan menjelek-jelekkan satu sama lain? Apa kita masuk dalam aliran materialistic, bahkan yang lebih hebat lagi dengan PT kelas jauh dan sangat jauh yang jelas-jelas dilarang oleh Dikti, apa yang ada dalam benak mereka saat itu adakah sebuah malaikat pencatat keburukan yang hadir kala itu. Coba kita terka masuk katagori pahlawan atau penjahat ?
Pada stase mahasiswa ini wadah untuk beraktualisasi diri sebagai seorang anak muda yang menuju dewasa menggapai sebuah impian yang meraka tanamkan, sebuah pilihan hidup yang harus mereka pertanggung jawabkan sebelum mereka menjadi profesi yang harus di ambil sebagai konsekwesi pilihan mereka pada masa stase mahasiswa ini.
Didikan profesionalitas dan pembentukan karakter yang kita bangun akan berimbas pola pikir mereka pada masa yang akan datang, sehingga mereka akan kesulitan untuk menempatkan diri sesuai dengan gelar yang mereka punya.
Orang tua bimbinglah kami sebagai manusia, kami muak dengan keserakahan dan kemunafikan, sebab dirumah tak ada yang bisa dipercaya (Iwan Fals), tolong ajari kami dengan cinta jangan renggut masa depan kami hanya karena dana konsumtif, kami adalah putra mahkota, yang akan menggantikan anda 15 tahun mendatang dan 30 tahun mendatang sebagai generasi emas, jika anda merusak masa depan kami lebih baik didik kami menjadi perampok yang melenyapkan harta sesaat dan bisa di ganti, namun ketika anda menjadi penjahat dan merampok masa depan kami, maka akan melenyapkan 100 tahun mendatang dan mempunyai value dan etika yang bermoral dan bermartabat, bukankah Nabi kita Muhammad SAW di utus untuk menyempurnakan budi pekerti (akhlak)? Maka bimbinglah kami sebagai manusia jangan bimbing kami sebagai penjahat yang merusak moralitas bangsa dan agama.
Mari kita tingkatkan mutu pengelolaan pendidikan tinggi yang bermartabat, harusnya sudah melampoi standart nasional, beri mereka jaminan mutu proses pengelolaan yang bertanggung jawab sesuai dengan amanah Undang-Undang No. 12/2012 tentang Pendidikan Tinggi berasaskan: kebenaran ilmiah; penalaran; kejujuran; keadilan; manfaat; kebajikan; tanggung jawab; kebhinnekaan; dan keterjangkauan. Dengan fungsi pendidikan tinggi adalah Mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa; mengembangkan Sivitas Akademika yang inovatif, responsif, kreatif, terampil, berdaya saing, dan kooperatif melalui pelaksanaan Tridharma; dan mengembangkan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dengan memperhatikan dan menerapkan nilai Humaniora.
Bojonegoro mulai berbenah untuk meningkatkan mutu SDM baik di tingkat dasar menengah, dan PT berbenah dengan dukungan Pemda untuk kerjasama tingkat internasional dengan Negara ASEAN khususnya PT dan Rumah Sakit di Filipina dan pendidikan pelatihan, student of change kedepan peningkatan program, joint degree, doble degree dan pertukaran dosen untuk dengan konsep kemitraan yang menguntungkan dalam kegiatan tersebut.
Dengan semangat komitmen meningkatkan mutu SDM di Bojonegoro alumni ITB periode 1983 yang tergabung dalam Yayasan Ganesa 83 dengan berbagai profesi ini turut mengabdikan diri untuk Bojonegoro dengan membekali cara berfikir yang obyektif rasional dengan mengadakan pelatihan STEAM (Saint, Tecnology, Engenering, Art, Matematic) kepada 105 guru SMP yang akan memberi pencerahan berfikir pada muridnya, dengan dukungan Sekretariat Daerah yang laksanakan di Pusat Berlajaran Guru (PBG) oleh Tim guru ahli dan dosen STIKES ICSADA, mengapa bidikan mereka adalah anak SMP? sadar atau tidak mereka akan jadi pemimpin untuk tahun 2045, nanti mereka akan jadi pemimpin bangsa ini, generasi emas ketika Indonesia merdeka ke 100 tahun,
Orang lain saja yang jauh dari Bandung menunjukkan betapa mereka komitmen untuk meningkatkan SDM di Bojonegoro. dimana posisi kita? sebagai pahlawan atau sebagai penjahat? mari kita evaluasi diri dan merenung sejenak untuk anak cucu kita …..
“Selamat berjuang untuk membentuk generasi emas yang bermartabat”

 Bojonegoro 20/02/2015
Hasan Bisri Ketua STIKES Insan Cendekia Husada Bojonegoro
Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi  Bojonegoro (ASPERTIB)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar